

“Kalau nggak jualan, saya mau makan apa, Nak… saya nggak punya siapa-siapa lagi.”
Setiap hari, Pak Hambran menyusuri jalanan kota dengan tongkat kayu.
Dengan suara pelan, ia menawarkan tisu dan kerupuk kepada setiap pengendara yang berhenti di lampu merah.
😔 Kehilangan Penglihatan Sejak Kecil, Kini Harus Bertahan di Trotoar Panas Demi Nafkah
Sejak umur 6 tahun, Pak Hambran kehilangan penglihatan akibat demam tinggi.
Dulu, ia bekerja sebagai tukang pijat. Namun sejak pandemi, pasiennya hilang satu per satu.
Kini, di usia senja, ia harus duduk di bawah terik matahari, menjual tisu dan kerupuk di pinggir SPBU.
Berjalan sendiri dengan tongkat kayu, Pak Hambran menempuh perjalanan dari kontrakannya ke titik ia biasa berjualan—dengan penuh risiko dan keteguhan.
💔 “Tisu, Kerupuk, Pak… Bu…” Suara Lembut dari Seorang Pejuang yang Tak Lagi Bisa Melihat
Pak Hambran bukan pengemis. Ia memilih tetap berjualan meski hanya dapat sedikit untung dari tisu dan kerupuk.
Setiap hari ia berharap ada yang membeli. Tapi kalau tak ada yang laku? Ia harus menahan lapar sampai esok hari.
🌾 Tidak Banyak yang Diminta—Hanya Agar Bisa Tetap Makan dan Berteduh Layak
Pak Hambran tidak meminta lebih. Ia hanya ingin tetap bisa makan, membayar kontrakan, dan berteduh dengan tenang.
Sambil terus berdoa, semoga dagangannya cukup untuk hari ini.
🤲 #SobatMulia, Mari Ulurkan Tangan untuk Pak Hambran
#SobatMulia, mari bantu Pak Hambran yang berjuang tanpa penglihatan namun tak pernah menyerah.
Caranya mudah:
✨ Klik tombol "DONASI SEKARANG"
✨ Masukkan nominal donasi
✨ Pilih metode pembayaran:
Virtual Account (VA), Instant Wallet, Bank Transfer, QRIS, atau Kartu Kredit
Terima kasih, #SobatMulia 🙏
Semoga bantuanmu hari ini menjadi cahaya dalam gelap yang Pak Hambran hadapi setiap hari. 💛