
Usianya sudah menginjak 82 tahun, namun semangat Mbah Demi untuk bertahan hidup tak pernah padam.
Setiap pagi, di bawah terik matahari, ia berjalan keliling kampung dengan langkah tertatih, membawa bakul berisi sayur yang dijajakannya dari rumah ke rumah.
“Kaki Mbah sakit, Nak… kadang sesak juga kalau jalan jauh,” ujarnya lirih, sambil menahan napas dan keringat yang menetes di wajah tuanya. Sering kali, dagangannya tak laku. Hari pun berganti tanpa sesuap nasi. Di saat perutnya keroncongan, Mbah Demi hanya bisa mengoles balsem di perutnya berharap rasa panasnya bisa menipu lapar yang mendera.
Saat malam tiba, di rumah reyot tanpa listrik itu, Mbah hanya ditemani lilin kecil dan kesepian. Tak ada anak, tak ada suami, tak ada siapa pun yang menemani masa tuanya. Hanya suara angin yang menembus dinding kayu rapuh menjadi teman setia setiap malam.
Meski hidupnya serba kekurangan, Mbah Demi tak pernah berhenti berjuang. Di usia senjanya, ia masih berusaha mencari rezeki dengan kaki yang mulai goyah, demi bertahan hidup satu hari lagi.
#SahabatBaik, tubuh Mbah Demi sudah tak sekuat dulu. Mari bersama bantu Mbah agar tak lagi menahan lapar dan bisa hidup lebih layak di masa tuanya. Sekecil apapun bantuanmu, sangat berarti bagi perjuangan beliau.
![]()
Menanti doa-doa orang baik